Alhamdulillah… hari demi hari, hanya nikmat dan karunia-Nya yang kami dapatkan. Tak lain dan tak bukan. Si kecil yang semakin lucu dan cerdas. Sambungan internet yang lancar. Teman-teman yang banyak cerita, pesan, dan pengalaman. Pohon-pohon yang segar; sedap dipandang dan menghembuskan oksigen murni. Klien & pekerjaan yang tiada putus. Serta rizki yang melimpah.
Sampai -seperti- dini hari ini. Hari pertama Ramadhan tahun ini. Ramadhan yang setiap tahun senantiasa datang, Ramadhan yang datang berulang-ulang, selalu saja menebar damai, nyaman, dan nikmat. Selalu saja, semua ummat mengelu-elukan dan menyambutnya gembira. Dan akan selalu kehilangan bila ia telah lewat.
Ucap Pak Khatib bukan pemanis bibir belaka: kita memang akan selalu gembira bertemu Ramadhan dan akan senantiasa merindukannya setelah lewat untuk bertemu kembali. Namanya juga bulan penuh berkah, auranya lain. Hawanya lain. Nuansanya lain. Khasnya lain.
Ayat-ayat suci berkumandang lebih menggema dan membahana. Ucap, pikir, dan tindak tiba-tiba selaksa dituntut malaikat: bergerak dan berjalan lurus. Indah… indah… indah! Ia menendang setan: si hawa nafsu penjerumus segala kebiadaban. Hawa nafsulah yang menggerus isi dompet. Sehingga membuat hidup tak teratur dan tak terarah. Isi dompet yang habis, membuat percik dan kobar api pertengkaran menyala. Saling sikut, tuduh, jegal, dan bunuh. Dompet tebal, begitu menggerakkan kita untuk senantiasa beramal.
Ramadhan membuat semuanya luruh. Hilang rona tipu-tipu. Para pelacur menjadi luruh. Ia tidak lagi menyangkalkan pembenaran hidupnya demi memperjuangkan nyawa dan makan anaknya di rumah. Ia hanya luruh. Bahwa semua yang dijalankannya memang nista adanya. Namun hanya luruh, bahwa semua kembali kepada-Nya Sang Hakim Agung, Sang Berhak Pemvonis. Tempat satu-satunya dia bisa bersandar dengan ikhlas tanpa tuduhan dan penghakiman tendensius.
Polisi yang biasa makan uang tilang jadi luruh. Mukanya tertunduk penuh malu. Berdosa karena memberi makan anaknya dengan uang haram. Hati menangis melihat korban-korbannya yang tetap berlalu-lalang di jalanan.
Ramadhan, maling pun tobat. Entah kenapa di bulan ini mereka bisa terbuka hatinya. Tertutup mata teganya. Ramadhan membuat mereka luruh. Diam tak bergerak, luntuhlah-lantaklah hawa nafsunya untuk mengambil hak orang secara paksa. entah kenapa dan bagaimana, kala Ramadhan mereka ada saja mendapat makan. Dari order menjadi tukang/kuli tiba-tiba hingga satu-dua-banyak orang meminta bantuan tenaga. Malaikat datang memberi pengajaran kepada mereka. bahwa rizki halal itu selalu ada, nikmat, dan utuh.
Para PNS yang biasanya bekerja ogah-ogahan, atau bingung menyelesaikan pekerjaan karena mereka mendaftar tanpa kompetensi, tiba-tiba tangannya seolah bergerak dengan sendirinya. Otomatis. Bisa “nyandhak” (mengerjakan) ini-itu secara tiba-tiba bisa. Semua bergerak, kala hati dan batin mereka luruh. Ikhlas, berbersih.
Pedagang di pasar sontak membersihkan timbangannya. Timbangan tersendat itu sontak lancar. Timbang dan imbang. Mereka luruh. Nafsu keji mengambil untung sesat luruh, hilang, musnah. Yang ada hanyalah luruh, dan timbanganpun jadi imbang.
Ramadhan, adalah luruh yang ditebar sejuta milyar malaikat. Ramadhan, adalah masa di mana nafsu yang menjelma sebagai ambisi jadi pudar, luruh.
Seniman akan terluruh ambisinya untuk mencetak lagu yang tophits, nangkrik di puncak tangga nada, dan menghasilkan milyaran dari RBT. Seniman musisi terluruh ambisinya yang itu adalah peranakan nafsu. Dia terluruh, tangannya hanya menggoreskan lagu-lagu yang jujur, mulia, tertuntun oleh malaikat, terinspirasi oleh nurani, dan terherak oleh alam. Sontak lagu-lagunya justru jadi indah, riil, alami, dan tidak seperti sebelumnya yang penuh tipuan.
Manajer penjualan luruh ambisinya untuk mngejar angka yang itu sebenarnya adalah buah keserakahan, yang selama ini mengejar target penjualan yang di atas kemampuan pasar untuk mnyerapnya. Ramadhan membuat semua luruh. Ramadhan, manajer penjualan hanya menjual dengan ikhlas dan bersih, jujur dan murni. Ia akan menggenjot penjualan, namun benar-benar tak akan melebihi kemampuan pasar untuk menyerapnya. Dan, kala Ramadhan, sontak perhitungan kemampuan pasar menjadi riil dan jelas, pasti dan akurat. Dan justru lebih besar ternyata kemampuan pasar menyerap barang daripada yang disangkakan selama ini! Kenapa bisa? Sebab kita ikhlas menghitungnya, bukan dengan ambisi anak nafsu.
Ramadhan. Jika biasanya bagian promosi akan tega menutup poster promosi produk dari pesaing, kini tiba-tiba kita semua luruh. Melihat poster promosi produk pesaing yang lepas/robek sedikit, bukannya menimpahi atau menindas dengan poster produk kita, yang ada justru kita akan ikhlas menambal/mengelemnya. Dengan penuh senyum. Dan kita ikhlas untuk bergerak lagi mencari tempat yang masih belum terjamah. Sungguh persaingan yang indah. Dengan penuh senyum.
Ramadhan, di mana manajer yang biasanya pusing memikirkan presentasi dan merancang langkah strategis kini bisa menemukannya dengan ringan dan penuh idea, padat isi muatannya. Pasti langkah-langkah jitunya. Efektif dan efisien perencanaan dan perhitungannya. Ramadhan, saat di mana ide-ide itu mengalir deras, sangat deras, deras sekali!
Kaum kreatifpun tiba-tiba kebajiran ide kreatif. Dunia pun kebanjiran tuangan ide-ide kreatif mereka yang indah. Semua membuat poster, script, dan tuangan-tuangan ide kreatif tentang ramadhan. Mendidikkan puasa dengan bahasa gaul dan humoris. Menebar aura kemanusiaan dengan bahasa trendi dan keren.
Bahkan, para programmer pun lancar bekerja. Penuh ide dan ringan bertugas.
Ramadhan, di mana jam dini hari justru menjadi prime-time. TV bertabur acara nomor satu. Lalu-lintas fesbuk mendadak meningkat tajam! Ramadhan, saat solidaritas mendadak meningkat tajam dari sebelumnya yang sudah sangat baik. Berbondong orang-orang iklhas saling membangunkan untuk sahur. Ayat-ayat suci Al-Quran itu, yang kadang jadi “pengganggu” tiba-tiba menjadi begitu indah. Sekalipun kita tak bisa membaca Quran. Kenapa indah? Karena Tuhan membahasakannya bukan dengan bahasa mata atau telingan belaka, melainkan bahasa batin. Selama batin kita bisa mendengar, kita bisa mencernanya (bahasa-bahasa Al-Quran itu).
Ramadhan, luruhkannlah semua. Ibarat kita meluruhkan kotor dan noda pada kain baju. Biarkan air pencuci itu keruh coklat, untuk kita buang. Kita bilas dengan air yang bersih – jernih – segar. Dan kita kembali menjadi kain putih yang bersih – harum – bersinar. Jangan biarkan kotoran itu mengendap dan kembali merasuk mengotori kain putih batin kita. Bilas, bilas, bilaslah hingga bersih.
Ramadhan, bukankah semua itu adalah benar adanya? Terjadi adanya? Kalaupun toh belum, kiranya itulah yang kita inginkan dan kehendakkan. Benarkah demikian?
Marhabban ya Ramadhan!* Posted on http://asiaid.wordpress.com/